expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Selasa, Mei 20, 2014

TNI Protes Pembangunan Mercusuar di Wilayah Sengketa, Apa Respons Malaysia?


Google Maps
Jakarta - TNI mengirim kapal perang ke area perbatasan Malaysia-Indonesia di Tanjung Datuk. Penyebabnya, Malaysia membangun mercusuar di kawasan sengketa tersebut. Apa tanggapan pihak Malaysia soal ini?

Diberitakan AstroAwani, Rabu (21/5/2014), juru bicara Angkatan Laut Kerajaan Malaysia mengatakan belum ada protes resmi dari pemerintah Indonesia terkait pembangunan mercusuar tersebut. Pihaknya masih memverifikasi sejumlah kabar yang beredar.

Tak ada penjelasan lebih lanjut dari juru bicara tersebut soal pembangunan mercusuar. Termasuk apakah benar sudah dihentikan, seperti keterangan pihak TNI.

Sebelumnya ada laporan, beberapa kapal dengan dikawal kapal Angkatan Laut Malaysia mengangkut material menuju titik pembangunan. Kapal-kapal tersebut melakukan pemasangan tiang pancang besi di lokasi tersebut.

Mendengar kabar ini, TNI pun bereaksi dengan mengirim kapal perang untuk melakukan penyelidikan. Kawasan yang berada di titik koordinat 02.05.053 N-109.38.370 E Bujur Timur, atau sekitar 900 meter di depan patok SRTP 1 (patok 01) di Tanjung Datu, Kalimantan Barat, wilayah abu-abu, tidak boleh ada pembangunan.

"Itu wilayah abu-abu, itu status quo. Nggak boleh masuk," jelas Kapuspen TNI Mayjen Fuad Basya saat dikonfirmasi detikcom, Rabu (21/5/2014).

Pada Selasa (20/5) pukul 17.00 WIB, setelah kapal perang TNI berpatroli terus berputar-putar di kawasan itu akhir Malaysia menghentikan pembangunan mercusuar. Namun tiga tiang pancang sudah terpasang di kawasan itu.

Jumat, Januari 17, 2014

Bencana Banjir di Manado Renggut 13 Nyawa



MANADO, KOMPAS.com - Hingga pagi ini, Kamis (16/1/2014), bencana banjir bandang yang terjadi di enam kabupaten/kota di Sulawesi Utara, Rabu kemarin, telah merenggut 13 korban tewas, dan dua warga lainnya belum ditemukan. Sementara, tercatat 40 ribu warga mengungsi.

Seperti yang telah diberitakan, banjir terjadi di enam kabupaten/kota di Sulut secara bersamaan, yaitu Kota Manado, Minahasa Utara, Kota Tomohon, Minahasa, Minahasa Selatan, dan Kepulauan Sangihe.

Menurut Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, bencana ini terjadi akibat kombinasi antara faktor alam dan antropogenik yang memicu terjadinya banjir bandang dan longsor yang masif di Sulawesi Utara.

Sutopo menguraikan, di Kota Manado lima tewas, satu orang hanyut belum ditemukan (Veber Sony Lowing). Di Kota Tomohon lima orang tewas. Di Minahasa tiga orang tewas, satu orang hilang (Niko-54), dan satu orang luka berat.

Di Kabupaten Minahasa Utara tiga desa dengan 1.000 jiwa terisolasi akibat banjir dan longsor. Di Kepulauan Sangihe beberapa rumah tertimbun longsor. Diperkirakan, sekitar 40.000 warga mengungsi ke tempat yang aman. 

Sutopo menjelaskan, hujan deras dipicu sistem tekanan rendah di perairan selatan Filipina, menyebabkan pembentukan awan intensif. Selain itu, adanya konvergensi dampak dari tekanan rendah di utara Australia, awan-awan besar masuk ke wilayah Sulut.

Akibatnya, empat sungai besar di Kota Manado meluap dan menghanyutkan puluhan rumah dan kendaraan. Bencana kali ini lebih besar daripada sebelumnya yang pernah terjadi pada tahun 2000 yang menyebabkan 22 tewas, dan Februari 2013 yang menyebabkan 17 tewas.  

Selasa, Desember 10, 2013

KRL vs truk tangki BBM



Tragedi Bintaro 2 terulang di hari yang sama



Tragedi Bintaro 2 terulang di hari yang sama
Ilustrasi. (Dok. Blogspot)
Sindonews.com - Kecelakaan kereta Commuter Line dengan truk tangki bermuatan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium di perlintasan Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan mengingatkan kita akan tragedi Bintaro 1987 silam.

Kecelakaan terjadi pada Senin 19 Oktober 1987 silam. Kereta dengan jalur pemberangkatan Rangkasbitung bertabrakan dengan kereta yang berangkat dari Stasiun Tanah Abang. Tercatat 156 penumpang tewas dengan tragis, dan sekira 300 orang luka-luka.

Kecelakaan ini tercatat sebagai salah satu musibah paling buruk dalam sejarah transportasi Indonesia, khususnya perkeretaapian. Peristiwa ini juga sempat menyita perhatian publik internasional.

Meski jumlah korban tidak sebanyak tragedi 26 tahun silam itu, peristiwa kecelakaan kereta tragis kembali terjadi di wilayah Bintaro. Nahasnya, kedua tragedi Bintaro ini terjadi di hari yang sama, yakni Senin.

Pada kecelakaan kali ini, Commuter Line menabrak truk tangki Pertamina yang berada di tengah perlintasan kereta. Tabrakan ini mengakibatkan ledakan beberapa kali. Gerbong depan Commuter yang dikhususkan untuk wanita terguling dan terbakar.

Tragedi Bintaro 2 ini memakan korban jiwa sebanyak enam orang. Mereka adalah masinis Kereta Api (KA) 1131 Darman Prastyo, teknisi PT KAI Sofyan Hadi, asisten masinis Agus Suroto. Sedangkan tiga orang penumpang yaitu Rosa Kesauliya (73), Yuni (16) dan Betty Ariyani (56).

Betty merupakan pasien dengan luka bakar yang sangat serius, akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan. Selain menelan enam korban jiwa, puluhan orang mengalami luka-luka. 

Hingga kini pihak-pihak terkait masih melakukan penyelidikan penyebab kecelakaan tragis ini.

Sabtu, Oktober 19, 2013

PANTUN PERIBAHASA



Kayu keras si kayu kampas
Alas tempat orang berjudi
Ada beras kerja pun deras
Ada padi kerja pun menjadi

Tinggi sungguh Gunung Daik
Mercunya nampak terang berkelium
Kalau asal benih yang baik
Jatuh ke laut menjadi pulau

Kayu bakar dibuat arang
Arang dibakar memanaskan diri
Jangan mudah menyalahkan orang
Cermin muka lihat sendiri

Pergi ke rumah Cik Mariam
Ramai orang tengah berjaga
Carik-carik si bulu ayam
Lama-lama bercantum juga

Kalau ada duit sekupang
Boleh beli cuka mentahun
Habis padi burung terbang
Bagai ulat tak kenangkan daun

Berakit-rakit kehulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian

Kehulu memotong pagar
Jangan terpotong batang durian
Cari guru tempat belajar
Jangan jadi sesal kemudian

Kerat kerat kayu diladang
Hendak dibuat hulu cangkul
Berapa berat mata memandang
Barat lagi bahu memikul

Harapkan untung menggamit
Kain dibadan didedahkan
Harapkan guruh dilangit
Air tempayan dicurahkan

Pohon pepaya didalam semak
Pohon manggis sebasar lengan
Kawan tertawa memang banyak
Kawan menangis diharap jangan

Air pasang menanam bayam
Buyung diisi di dalam loyang
Jangan diambil resmi ayam
Bertelur sebiji riuh sekampung

Anak buaya pergi bertenung
Singgah ke lubuk memakan bangkai
Hendak hati memeluk gunung
Gunung dipeluk tangan tak sampai

Anak dara mengandam dahi
Rambut ditanam di tepi telaga
Anjing biasa makan tahi
Kalau tak makan cium juga

Anak haruan mudik berenam
Lumba-lumba menyusul tebing
Sama mencecah si hati kuman
Susah senang sama membimbing

PANTUN PERIBAHASA



Kayu keras si kayu kampas
Alas tempat orang berjudi
Ada beras kerja pun deras
Ada padi kerja pun menjadi

Tinggi sungguh Gunung Daik
Mercunya nampak terang berkelium
Kalau asal benih yang baik
Jatuh ke laut menjadi pulau

Kayu bakar dibuat arang
Arang dibakar memanaskan diri
Jangan mudah menyalahkan orang
Cermin muka lihat sendiri

Pergi ke rumah Cik Mariam
Ramai orang tengah berjaga
Carik-carik si bulu ayam
Lama-lama bercantum juga

Kalau ada duit sekupang
Boleh beli cuka mentahun
Habis padi burung terbang
Bagai ulat tak kenangkan daun

Berakit-rakit kehulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian

Kehulu memotong pagar
Jangan terpotong batang durian
Cari guru tempat belajar
Jangan jadi sesal kemudian

Kerat kerat kayu diladang
Hendak dibuat hulu cangkul
Berapa berat mata memandang
Barat lagi bahu memikul

Harapkan untung menggamit
Kain dibadan didedahkan
Harapkan guruh dilangit
Air tempayan dicurahkan

Pohon pepaya didalam semak
Pohon manggis sebasar lengan
Kawan tertawa memang banyak
Kawan menangis diharap jangan

Air pasang menanam bayam
Buyung diisi di dalam loyang
Jangan diambil resmi ayam
Bertelur sebiji riuh sekampung

Anak buaya pergi bertenung
Singgah ke lubuk memakan bangkai
Hendak hati memeluk gunung
Gunung dipeluk tangan tak sampai

Anak dara mengandam dahi
Rambut ditanam di tepi telaga
Anjing biasa makan tahi
Kalau tak makan cium juga

Anak haruan mudik berenam
Lumba-lumba menyusul tebing
Sama mencecah si hati kuman
Susah senang sama membimbing